0
Dikirim pada 10 Oktober 2011 di sahabat

Janji hajiku

 

Oleh Mizwen briliana Fitrie

 

"Dek, tabungannya Mas pinjam dulu ya? ini penting banget, soalnya keponakanmu itu, bulan depan harus sudah bayar uang gedung" desak suara telpon diujung sana yang membuat hati Intan berdesir lemas.

Masa iya kali ini ditunda lagi? tapi Ya Allah, jika memang Engkau belum mengijinkan aku untuk menjadi tamu di rumah-Mu tak mengapa ya Rabb, asalkan keluarga besarku merasa terbantu dengan keberadaanku, meski Engkau tau betapa hati ini merindukan bertamu di rumah agung-Mu.

"Dek...! kok diam saja ? gimana nih? boleh tidak Mas pinjam dulu? soal kembalinya gampang lah nanti kalau kamu akan menikah pasti Mas kembalikan" suara disebrang sana seolah terus mendesak mengagetkan Intan yang tengah mengadu setengah merintih kepada Tuhan sepertinya tak memberikan Intan kesempatan untuk berfikir barang sejenak.

"I..Iya.. Mas, b..boleh.. terserah Mas aja deh"

"Ya sudah, nanti kalau sudah dikirim, kabari Mas lagi ya?"

"Iya Mas, salam buat Ibu dan kakak ipar juga Rosi"

 

"Iya wa'alaikum salam"

"Kamu hati hati ya Dik, kerja di negri orang, jangan lupa shalatnya dan jaga kesehatan"

 

"Iya Mas,"

Intan menutup tepon dan segera menyentuhkan keningnya ke lantai tepat dimana ia berdiri berbicara dalam telpon barusan. Ia mengadukan segala kegundahan dan kesedihan yang tak ingin ia tunjukan kepada siapapun kecuali pada Tuhannya.

 

Memang inilah kebiasaannya baru baru ini, disaat ia tak mampu lagi menahan perasaannya, satu hal yang membuatnya merasa nyaman hanyalah bersujud dimanapun tempatnya sambil mengutarakan segala perasaanya.

Saat ia tengah ter isak lirih dalam sujudnya, Nenek yang di asuhnya merayap keluar dari kamar.

"Ada apa Intan? sebaiknya kamu matikan saja Hpmu daripada setiap kamu menerima telpon dari keluargamu kamu akan menangis" dengus Nenek itu dengan nada tidak senang.

 

"Ah Nenek, aku kan kangen sama Ibu hehee..." kilah Intan seraya bangkit dari sujudnya dan menghampiri Nenek, memapahnya ke kamar mandi.

''Pelan pelan Nek jalannya''

Intan berusaha menyembunyikan yang sebenarnya dari Nenek jompo yang di asuhnya itu dengan menunjukan mimik ceria. Meskipun Nenek orang yang sangat galak dan kasar tapi ada kalanya ketulusan sikap Intan mampu mencairkan kebekuan hatinya.

Intan sendiri bingung pertama kali tiba dirumah itu. Mengapa Nenek begitu membenci Intan. Tapi Intan mentaati nasehat Mr. Chan yang menyuruhnya bersabar dan tlaten menjaga ibunya itu, belakangan baru tau sejarahnya mengaapa Nenek begitu membenci pembantu dari Indonesia terutama yang muslim seperti Intan.

Ternyata penyebabnya adalah, saat pembantu yang dulu tengah melaksanakan shalat di kamarnya, kakek yang dijaganya terjatuh di kamar mandi saat mencoba berjalan ke kamar mandi sendiri dan jatuh hari itu menyebabkan kakek hingga meninggal.

 

Itulah sebabnya mengapa nenek tak mau dirawat pembantu dari Indonesia, karena menurut Nenek pembantu dari Indonesia itu harus shalat, dan saat shalat berlangsung, tidak boleh melakukan kegiatan apapun selama beberapa menit saja, hingga Nenenk menganggap pembantu Indonesia itu tidak disiplin dan bertanggung jawab pada tugasnya.

 

Tapi Mr chan percaya bahwa pembantu dari Indonesia itu lemah lembut sabar serta tekun dan bisa diandalkan. Maka ia tak peduli meski ibunya tidak setuju dan punya dendam pada pembantu Indonesia ia tak mempedulikan ibunya menurutnya ini demi kebaikannya juga.

 

Hari hari selama berbulan bulan di rumah itu, Intan hanya mengelus dada atas segala perlakuak Nenek yang begitu memusuhinya. Tapi sebagai orang yang diamanahi oleh Mr Chan yang telah mempekerjakannya, Intan tak ingin mengecweakannya. Ia diamanahkan untuk menjaga dan merawat ibunya selama Mr Chan bepergian ke berbagai negara untuk urusan bisnisnya.

 

Intan bertekat apapun perlakuan Nenenk padanya selama tidak membahayakan keselamatan jiwanya ia akan bertahan. Janji itu ia pegang kuat kuat dalam hati.

 

Jarang sekali Nenek menyapa atau bicara dengan Intan, kecuali dengan bentakan makian dan hinaan. Begitu terus selama berbulan bulan hingga bilangan tahun.

 

Namun Intan tetap bersabar dan merawat Nenek sepenuh hati, ia sentuh dengan segenap perasaanya saat memberinya makan, memasak penuh dengan rasa cinta. Membantunya mengganti pakaian, memandikannya, memijitnya dan mengelusnya semua ia lakukan dengan penuh rasa cinta seperti terhadap nenek sendiri.

 

Ia meneteskan air mata saat nenek merasakan sakit, ia tunggui selama Nenek berbaring dirumah sakit, sambil perlahan lahan ia senandungkan ayat ayat Al Qur'an.

 

Ia suapi Nenek dengan sup dan bubur halus yang masih panas hasi buah tangannya, sambil ia tiupi seperti menyuapi seorang bayi dan berceloteh seperti tengah mendongeng dihadapan anak kecil. Nenek malah menyemburkan bubur itu ke wajah Intan, sambil mengumpat berpura pura lidahnya kepanasan.

 

"Apa apaan kamu Intan? kamu ingin aku mati ya? masa bubur sepanas itu kamu kasih Nenek? punya otak tidak sih kamu?"

Perawat dirumah sakit yang berkali kali melihat adegan itu hanya geleng geleng kepala. Bingung melihat kesabaran intan, "Kok masih mau sih diperlakukan seperti itu? memangnya dibayar berapa kamu?" tanya perawat itu saat kebetulan bertemu di kamar kecil.

" Ah, suster, ini bukan soal uang saja sus, tapi ini soal tanggung jawab'' jawab Intan sambil menyeka wajahnya

"Ha? tanggung jawab? tanggung jawabmu kan merawat dan menjaganya buka menjadi umpatan dan perlakuan kasarnya, kamu bisa saja mengundurkan diri dan mencari pekerjaan lain.

 Kebetulan Ibu mertuaku membutuhkan seorang perawat dan aku jamin Ibu mertuaku tak sejahat Nenek itu.'' kata suster Ching sambil mengoleskan bedak di hadapan cermin seraya merapikan tata letak make up diwajahnya.

"Ini nomer telponku, kamu bisa menghubungiku kapanpun kamu berubah pikiran" perawat itu menyodorkan selembar kertas bertuliskan nama dan nomer telpon seraya pergi meninggalkan kamar mandi umum rumah sakit itu.

Memang tekat awal Intan menjadi TKW di Hong Kong adalah untuk membantu kesulitan yang membelit keluarganya, ia tak pernah mengerti seperti apa kehidupan masyarakat Hong Kong, tradisi dan budaya juga perlakuak majikan padanya.

Intan bertekat apapun masalah yang akan dihadapinya ia tak ingin menghawatirkan keluarga di indonesia. Banginya membahagiakan keluarga besarnya adalah kebahagiaannya juga.

 

Biarlah rasa getir dan pahitnya bekerja di luar negri, cukup  ia saja yang merasakan tak perlu orang rumah tau.

Yang dikabarkan hanyalah yang baik baik saja.

Asalkan keluarga bahagia dan kecukupan tidak menghutang kepada tetangga kiri dan kanan.

Apapun resiko dalam pekerjaanya, adalah tanggung jawab yang harus ia pegang.

Baginya bekerja bukalah sekedar tugas dari majikan, melainkan ia maknai dengan pengabdian pada Tuhannya. Meski Nenek yang dirawatnya berlaku jahat ia tak keberatan dan tak perlu mengeluh.

Senantiasa ia lakoni tugasnya dengan semangat Ibadah dan mengharap nilai dan keridha'an Allah atas apa yang ia lakukan.

Namun ditengah perjalanan ia merasa ada panggilan yang teramat dalam untuk menyegerakan diri berziarah ke makam Rosulullah, keinginan itu senantiasa ia pendam dari teman dan keuarga besarnya, sehingga ia tabung dan sisihkan gajinya untuk ongkos ke baitullah niatnya.

Ia pikir sudah waktunya setelah sekian tahun gajinya dikirimkan untuk kebutuhan orang rumah ia ingin sekali kontraknya tahun ini utuh untuk dirinya sendiri yang ingin brangkat umrah.

Tapi sayang, kembali lagi keluarga membutuhkan. Ada saja keperluan mendadak dan darurat yang lebih penting daripada ke tanah suci.

Intan pun merelakan semua tabungannya di pakai oleh saudara saudaranya.

Ia hanya bisa (mrebes mili) menahan keinginan yang tiap tahun selalu gagal dilaksanakannya. Selain keinginan terbesarnya ingin berthowaf bersama ribuan jamaah dari berbagai belahan dunia, Intan juga memikirkan dirinya yang sudah berusia sekian belum berkesempatan berkeluarga.

Ia senantiasa membayangkan dirinya tengah bersama sama melempar jumrah, terpekur penuh keharuan dalam sujud panjangnya di majid Nabawi, memohon keberkahan hidup bagi keuarga serta memohon dikaruniakan seorang imam yang tanngguh dan amanah serta keturunan yang barokah, berlari lari kecil padang arafah. Ia tersenyum simpul dalam imajinasi itu.

Tapi hayalan itu hanya menyesakkan nafasnya saat membukan mata melihat kenyataan keluarga masih sangat membutuhkan peranannya.

 

Kesedihan memuncak saat Nenek yang dirawatnya meninggalkan dunia ini dan dirinya.

Dokter dan perawat turut menghibur Intan yang sudah sangat akrab selama beberapa bulan tinggal dirumah sakit itu melihat Intan sangat berduka atas kepegian Nenek.

Intan serasa ditinggal oleh salah seorang keluarganya sendiri, dalam keadaan masih berduka itu Mr Chan bersama seorang tamu menanyainya.

"Intan kesini, duduklah sebentar kami ingin bicara" seraya mempersilahkan Intan duduk disofa ruang tengah keluarga itu.

"Intan Ibuku kan sudah meninggal dan otomatis aku sudah tidak membutuhkan jasamu lagi karena kehidupanku yang pindah pindah dari satu negara ke negara lain"

 

"Iya tuan, saya mengerti maksud Anda, saya akan segera mengemasi barang barang saya" suara Intan seperti tercekik

 

"Sekarang terserah kamu, mau mencari pekerjaan lain, atau pulang ke negaramu, ini pengacara kami Mr Wu, dia mau membacakan surat wasiat Ibuku"

 

 

Nafas Intan terguncang, dadanya bergetar sujud syukur tak mampu ia tahankan ia ungkapkan semerta merta. ternyata pas satu bulan usai Nenek yang dirawatnya meninggal, dengan ijin Allah ia di nobatkan sebagai penerima sebagian kecil harta warisan keluarga itu.

Dan sebagian kecil itu ternyata lebih dari cukup buat dirinya menjalankan ibadah haji dari Hong Kong.

Intan mendapatkan warisan Empat ratus juta lebih setelah dirupiahkan.

Akhirnya Intan berangkat Haji dari Hong Kong bersama 11 rombongan jamaah haji dari indonesia yang juga berprofesi sebagai TKW.

 

Dengan ijin Allah ternyata Nenek yang berlaku kasar dan jahat kepadanya selama ini begitu telah lembut hatinya Nenek terntaya begitu menyayanginya. Buktinya jauh sebelum nenek jatuh sakit, jauh jauh hari Nenek telah membuat surat wasiat untuknya.


 



Dikirim pada 10 Oktober 2011 di sahabat
comments powered by Disqus
Profile

Aku adalah karya-Nya, Dia yang sempurna, Yang menakdirkaku ke bumi ini, untuk suatu tujuan. Tak semestinya aku berkeluh kesah, Hanya tinggal patuh saja, pada kehendaknya. Apapun yang ku butuhkan telah Ia fasilitasi tinggl kegigihanku menggali potensi dan mensyukuri. Aku uniq, aku antik, kamu tau kenapa? Ya, karena aku cuma satu satunya di muka bumi ini. Tak tersedia di toko manapun. Aku ada untuk berkarya, mengenyam peradaban dunia. Bukan untuk berleha-leha. ssttt...!!! Aku, aku dan selalu saja aku. Sebenarnya siapa sih aku? Who am i? Hm.. one things have to know, that Aku bukanlah sekedar tubuh ini, Aku adalah jiwa yang agung, yang beerada di atas tubuh ini. Dengan segala kekurangan dan kelebihanku aku bangga menjadi diriku. More About me

Page
BlogRoll
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 42.007 kali


connect with ABATASA